Cersex Cerita Sex, Cerita Dewasa, Cerita Ngentot, Cerita Mesum, Cerisex Terbaru 2015 – Cerita Sex: Istri Teman-Temanku
– Hari itu aku menerima sebuah email dari grup swinger dimana kami
menjadi anggotanya.yang intinya adalah sebuah undangan untuk turut serta
pada sebuah acara yang akan diadakan di hotel terbesar di Jawa Barat di
tepi pantai.
Ketika kusampaikan pada Anita dia hanya mengernyitkan kening
“Nggak kejauhan tuh pah?”, tanyanya.
”Ya entahlah.., mereka set up tempatnya disana, tinggal kita mau ikut atau nggak, semua ada empat pasang, dengan kita” jawabku.
Read more
Mengingat waktu yang dipilih adalah week end, kami setuju untuk turut
serta, apalagi mengingat sepanjang bulan Desember hingga lewat tahun
baru kami jarang punya kesempatan untuk berdua, maklum anak anak sudah
semakin besar dan tuntutannya untuk mengisi liburannya juga semakin
beragam, sehingga praktis setiap ada waktu libur serta sepanjang libur
natal dan tahun baru yang cukup panjang, waktu kami dikuasai ’mereka’
Pada malam harinya sebelum kami berangkat telfonku berdering,
ternyata Sonny yang call ”Hey…..udah siap?” tanpa basa basi ia bertanya,
memang kawan satu ini orangnya straight tapi baik dan humoris. ”Sudah
jawabku, pagi-pagi kami berangkat” jawabku,
”Gini…gini….bisa nggak kalau kita minta tolong?” tanyanya
”Anything ..man” jawabku
”Aku, Herman, dan Andi besok pagi ternyata mesti ketemu sama client,
nggak bisa ngelak, ada sedikit masalah soal proyek kita” jelasnya
”Lalu..?” tanyaku masih belum mengerti maksudnya
”Titip Wirda my wife, juga Irene dan Cinthya, kalian berangkat aja
duluan kita nyusul setelah pertemuan, soalnya you know.., mereka udah
siap – siap kalau dengar berangkatnya jadi kesiangan moodnya suka hilang
terus ngambek, nggak fun nantinya ..ok?” jelasnya panjang lebar, dan
yang dimaksud Irene dan Cintya adalah istri Herman dan Andi.
”O..itu, ya nggak masalah lagian mobilku kan lumayan besar” jawabku
”Apa kujemput mereka satu persatu?” tanyaku melanjutkan
”Ah nggak usah, come over to my place aja pagi pagi, mereka udah janjian ngumpul disini.”katanya
”Oke.., sampai besok ya..” kataku menutup pembicaraan.
Pagi pagi sekali kami sudah berada di sebuah kompleks perumahan elite
di wilayah selatan dan ketika kami tiba di kediaman Sonny, suasana
sudah ramai.
”Hey… kami saling berpelukan saat bertemu mereka, memang walau kami
belum pernah gabung di acara yang dihadiri Andi dan Cintya serta Herman
dan istrinya Irene, namun kami sudah saling mengenal dan pernah makan
malam bersama.
”Okay ..udah jangan kebanyakan cerita.., berangkat aja..kita bereskan
dulu pertemuan dengan client cerewet itu, nanti kita menyusul” Sonny
yang tanpa basa basi langsung berkata.
”Eh…ngusir…..awas ya kamu Son..baru datang boro-boro dikasih minum, ” Anita menanggapi gurauan Sonny.
”Kamu yang awas ntar disana.., jangan minta tambah lho,” ujar Sonny menyambut gurauan Anita.
Demikianlah sekejab kemudian mobil yang kukemudikan sudah meluncur mulus menembus cerahnya udara pagi.
Dari percakapan antar para istri di mobil aku baru tahu kalau Sonny,
Andi dan Herman sama sama bekerja dalam sebuah holding yang cukup
ternama, dan sesungguhnya sama sekali tak diduga kalau hari ini mereka
ditugaskan menemui dan rapat dengan client holding tersebut, ”Namanya
juga cari makan.., ya udah mau nggak mau” Wirda menyelesaikan
penjelasannya.
Wirda adalah seorang wanita yang masih tampak menarik di usianya,
memang ia dan suaminya adalah anggota tertua dalam komunitas kami, Sonny
berusia 55 tahun dan Wirda hampir mencapai 50 tahun, masih tampak lebih
muda dari usianya, Irene yang termuda berusia sekitar 28 tahun,
wajahnya cantik sekali dengan sepasang mata yang besar dan menarik hati,
berambut ikal sebahu tubuhnya langsing dan walau dadanya tidak terlalu
besar namun proporsional, sementara Cintya sekitar 35 tahun, wajahnya
lumayan manis dengan tubuhnya tidak terlalu tinggi, payudaranya besar
sekali, namun pinggangnya termasuk ramping, dengan pinggul yang bulat,
Aku mengemudikan dengan santai dan hampir 5 jam kemudian kami tiba di
lokasi, sebuah hotel yang terdiri atas beberapa bungalow dan terletak
persis ditepi pantai.
Demikianlah setelah merapihkan barang – barang kami di masing –
masing bungalow, waktu ternyata sudah lewat tengah hari dan kami semua
sudah kelaparan, makanan yang disediakan ternyata lumayan enak dan
akhirnya dengan perut kenyang kami semua kembali ketempat masing –
masing untuk beristirahat.
Sonny ternyata memesan 4 buah bungalow untuk kami semua, sehingga
tiap pasangan punya privacy dan khusus untuk bungalow yang ditempatinya
ia memesan yang terbesar dengan 2 kamar, dan aku mengerti maksudnya,
kamar yang satunya akan menjadi ’kamar bermain’.
Siang itu aku tertidur di bungalow kami, Anita juga nampak masih
lelap ketika aku bangun, hari sudah menjelang sore, kubuka jendela
kamar, tampak lautan lepas menghampar membawa ombak dengan buih buihnya,
udara cerah dan semua terasa nyaman.
’Tok….Tok…”pintu kami diketuk dan ketika kubuka nampak Wirda berdiri
didepan pintu dengan wajah keruh..”Yuk…masuk..”kataku mempersilahkan dan
Anita yang juga baru bangun… sudah bergabung.
”Sonny..nampaknya nggak bisa datang” katanya langsung, ”Juga Herman dan
Andi, rupanya urusan cukup penting hingga mereka sampai harus
menyelesaikannya minggu ini juga” katanya lagi.
Aku tidak menjawab, ku ambil HP ku dan kuhubungi Sonny,
”Hey..man,,,gimana nih..kamu yang punya acara malah masih di Jakarta,
kasihan nih para nyonya udah capek capek 5 jam perjalanan kok jadinya
begini?” tanyaku langsung
”Sorry, sorry banget.., ada masalah dengan pekerjaan., bener-bener nggak
bisa kutinggal.., terserah kalian deh.., tapi aku minta maaf, nih Andi
mau bicara” katanya lalu menyerahkan telpnya pada Andi yang juga
menerangkan hal yang sama.
”Oke..oke.., aku sih bisa paham, jadi enaknya gimana apa kami semua balik saja ke Jakarta malam ini ?” tanyaku pada Sonny
”Terserah nyonya nyonya deh…., habis gimana…, kalau kamu sih enak perusahaan punya sendiri.” jawabnya pasrah
”Ok coba nanti kuatur deh..” jawabku
Jujur saja, suasana disini sesungguhnya nyaman sekali dan aku benci kalau harus nyetir balik ke Jakarta malam ini juga.
Kupandangi Anita dan kami beradu pandang sebentar, lalu istriku
berkata pada Wirda, ”mBak.. kita makan malam dulu deh.., sambil
berunding… ” lalu entah apa yang dibisikannya pada Wirda, namun serta
merta wajahnya menjadi cerah.
Malam itu kami makan malam di hotel lagi, karena memang makanannya
enak dan fasilitas restorannya lumayan bagus, setelah kenyang makan sea
food kami memesan minuman dan sepakat untuk ngobrol di dalam bungalow
saja sambil minum.
Sambil minum kami ngobrol santai, kecuali aku dan Wirda yang duduk di
lantai beralaskan bantal yang lain ber leha leha di sofa, sambil
sesekali mengomel pada ketiga pria yang tidak kunjung muncul.
Suasana cukup ramai, bayangkan 4 wanita berkumpul dan aku laki laki
sendirian, menjadikanku hanya sebagai pendengar, belum ada sejarahnya
seorang laki laki sanggup mengatasi pembicaraan 4 wanita sendirian.
Tiba tiba Wirda yang duduk disampingku melingkarkan tangannya
dibahuku, dan ketika aku menoleh, bibirnya sudah mencium bibirku, aku
melayaninya dan membalas permainan lidahnya, tubuh kami sudah berpelukan
dengan rapatnya dan karena memang posisi kami dilantai, kurebahkan
tubuhnya dengan bibir kami tetap berpagutan dan tangan kami saling
meraba tubuh masing masing.
Kancing bajuku sudah terbuka dan baju Wirda juga mulai terbuka,
tanganku memeluknya dan dengan mudah kait BH yang dikenakannya kulepas,
dan beberapa kejab kemudian, puting susunya sudah dalam mulutku.
Walau sudah tidak terlalu kencang dan padat, namun buah dadanya masih
cukup ’layak’ untuk dinikmati, dan tangannya juga tak kalah cekatan,
karena batang kemaluanku sudah dalam genggamannya.
Tiba tiba kurasakan ada tangan lain yang menyentuhku,, ternyata
istriku, yang kini ’membantu’ melepaskan pakaianku, sehingga sebentar
saja aku sudah telanjang bulat. Wirda sudah menikmati kemaluanku dengan
mulutnya dan Anita kini gantian berciuman denganku, sempat terpikir,
wah…4 orang wanita..apa kuat..?
Kerasnya lantai membuatku tak nyaman, maka kuusulkan pindah kekamar,
dan sambil berpelukan kami semua pindah kekamar, Cinthya dan Irene masih
jadi penonton,
sementara Wirda dan istriku sudah mulai ’menyerang’ begitu tubuhku mendarat diranjang.
Aku telentang dan Wirda berjongkok diwajahku menyodorkan vaginanya untuk
kujilat dan lidahkupun segera saja mengembara kesetiap sudut vagina
wanita itu sementara tanganku memainkan buah dadanya.
Istriku masih asyik dengan mulutnya dijilat dan disedotnya batang kemaluanku dan juga bijiku tak luput dari serangan mulutnya.
Merasa cukup lagi pula aku tak ingin cepat cepat selesai, kuminta
Wirda bergeser dan kuberi tanda pada istriku untuk berhenti, lalu dengan
posisi Wirda dibawah kuangkat kedua kakinya kebahuku dan batang
kemaluankupun menembus vaginanya. Kupilih posisi ini karena kuingat
cerita Sonny suami Wirda bahwa ia paling tidak tahan lama dengan posisi
demikian.
Benar saja belum lama aku mengayunkan batang kemaluanku mengaduk aduk
bagian dalam vaginanya ia sudah mulai mengerang dan mendesah tidak
karuan dan semakin cepat aku bergerak semakin cepat ia mengimbangi
hingga akhirnya dengan satu keluhan panjang ia mendesis keras ”O…God….I
am cumming….cumming..ahhh….” dan tubuhnya mengejang hebat hingga
akhirnya berhenti bergerak dengan batang kemaluanku tertanam di dalam
vaginanya yang basah.
Sambil berbalik merebahkan diri kemaluanku tercabut dari vagina Wirda
yang nampak puas, namun secepat itu pula batang kemaluanku yang masih
penuh lendir itu sudah berada dalam mulut hangat Irene yang entah kapan
sudah berada disisiku.
Anita kembali menciumi wajahku, dan bergerak kebawah, sementara Irene
ternyata juga seorang ’maestro’ dalam memainkan kemaluan pria dengan
mulutnya.
Entah kode apa yang digunkan, namun kini Anita sudah diatasku dan
kemaluanku diarahkan memasuki vaginanya, aku agak mengeluh dalam hati
karena aku tahu kalau dalam vagina istriku, aku takkan mampu bertahan
lama, ada suatu kelebihan pada vagina istriku dan itu terbukti, karena
banyak sudah aku mendengar pujian dari banyak laki laki yang pernah
merasakan Anita, vaginanya memiliki dinding yang dapat meremas dan
berdenyut denyut, luar biasa nikmat. Apalagi saat itu lidah Irene juga
tak kunjung berhenti menyapu bijiku dan sesekali bibirnya menyedot dan
saat istriku menarik pinggulnya terasa lidahnya menyapu batang
kemaluanku.
Anita juga sudah sangat terangsang mungkin karena suasana,
permainanku dengan Wirda barusan dan sentuhan sentuhan lidah Irene yang
pasti sesekali menyentuhnya dengan batang kemaluanku didalam vaginanya.
Karena kami sudah sangat dekat dan kenal kebiasaan satu dengan lain,
kode yang diberikannya segera kupahami, ia mulai mengayunkan pinggulnya
dengan irama nya yang khas dan kami bersama sama mendaki menggapai
puncak dan akhirnya
”aku keluar……pa…aku keluar……….aahh…” dan beberapa saat kemudian aku
menyusul ”ssshh…ya…ya….ahh…namun tiba tiba Anita melepaskan batang
kemaluanku dari vaginanya dan tanpa diduga digantikan oleh mulut Irene.
Aku yang sudah sampai dipenghujung tak perduli lagi dan ”Sssshhh…
crrrt…..air maniku menyembur dalam mulut wanita istri Herman itu.
Dengan mulutnya disedotnya semua yang kukeluarkan dan kemaluanku baru dilepaskan setelah mengerut kecil.
Tidak lama aku dapat bersantai, Irene yang wajahnya nampak sekali
masih sangat bernafsu sudah mulai lagi dengan serangannya, lidahnya
menjilatiku dari atas hingga kebawah, bahkan satau persatu jari tangan
ku di emutnya dengan mulutnya, dan mau tidak mau batang kemaluanku
menjadi tegang dan keras kembali.
Kami sedang dalam posisi 69, tubuhku diatas tubuh Irene dan wajahku
terbenam dalam vaginanya, dengan lidahku yang berusaha mencapai sudut
sudut yang terdalam, sementara kembali batang kemaluanku sudah dalam
mulut Irene ketika tiba tiba kurasa ada tubuh lain yang menempel
dipunggungku dan sepasang buah dada yang kenyal dan besar menempel di
punggungku, Cintya juga ikutan rupanya.
Kuminta Irene menungging, dan dengan posisi doggy style kumasukan
kemaluanku dalam vaginanya. Sambil mengayunkan pinggulku Cintya yang
berada disampingku menyorkan buah dadanya kemulutku yang segera kusambut
dan kusedot sedot, konsentrasi ku kembali agak terganggu karena dalam
posisi berlutut dan kemaluanku terbenam dalam vagina Irene, ada yang
menerobos dibawahku dan Wirda sudah menjilati bijiku, anusku, dan
kembali ke bijiku, wah……….kalau begini aku tak kan bisa lama pikirku,
kupercepat dan dengan keras kuhantam vagina Irene dengan ayunan yang
cepat, untunglah Irene segera naik dibegitukan dan akhirnya …hampir
bersamaan aku kembali keluar….sedetik kemudian Irene pun berteriak
…”ahh….keluar…keluar…..sssshhh…tubuhnya mengejang sejenak terus melemas
dan kemaluanku pun lepas yang rupanya hanya pindah ke mulut Wirda.
Cintya yang masih belum ’kebagian’ nampak agak kecewa, namun kutarik
tubuhnya…kucium bibirnya dan kubisikan untuk sedikit bersabar…, ’habis
ini ya…?’ yang dijawab dengan kecupan di bibirku.
Kami kembali bersantai semua tetap telanjang bulat dan kusempatkan
untuk menyiram tubuhku dengan air dingin yang segar,… aku tak tahu
berapa lama pertempuran akan berlangsung namun yang kurasakan adalah
rasa lelah dan mengantuk yang mulai menyerang, hanya mengingat janjiku
pada Cintya lagi pula dengan bentuk badannya yang sangat montok, Cintya
seakan menjanjikan kenikmatan tersendiri.
Hampir satu jam kami bersantai, istriku dan Irene saling ngobrol
cekikikan, entah apa yang dibicarakan, sementara Cintya berada
dipelukanku, tanganku tak henti hentinya memainkan buah dada yang besar
itu, terbesar dibanding semua wanita yang ada disini.
Wirda yang mungkin kelelahan nampak meringkuk tertidur di sofa dengan
tubuh telanjang. Aku berdiri mengambil selimut dan menutupi tubuh istri
temanku itu lalu , kubisikan sesuatu pada Cintya dan kami naik keatas
tempat tidur, diikuti pandangan mata Irene dan istriku.
Aku dan Cintya mengambil posisi 69, dengan dia diatasku, mulutnya
segera memainkan batang kemaluanku dan sebentar saja akupun sudah
bangkit lagi, sementara vaginanya yang kujilat dan kusedot sedot itu,
klitorisnya yang kumainkan dengan lidahku membuatnya banjir dengan
lendir, dan tak lama kemudian ia sudah menunggangiku dan bergerak dengan
liarnya, buah dada yang extra besar itu berayun ayun yang segera
kutangkap dan kupilin pilin putingnya, sesekali direndahkan dadanya
untuk di hisap dan disedot olehku. Cintya tak tahan terlalu lama dengan
satu gerakan yang sangat keras ditanamkannya batang kemaluanku sedalam
dalamnya dan ia meracau tak keruan lalu mendesah dan ambruk di dadaku.
Masih kubiarkan sebentar ia diatasku lalu kurebahkan ia kesamping dan
kucium bibirnya, matanya tampak mengantuk dan wajahnya nampak puas.
Cintya memang tak terlalu cantik namun wajahnya manis mencerminkan
hatinya yang baik.
Baru saja mau bangkit, istriku sudah menahan dadaku agar tetap rebah
dan kini mulutnya bermain, seakan ingin ’pamer’ pada yang lain ia
menghisap dan menjilati batangku, pinggulku diganjalnya dengan bantal
dan kakiku diangakat keatas lalu lidahnya menembus anusku, sesekali
diputarnya lidahnya dalam anusku dan kembali batangku masuk kedalam
mulutnya, istriku tahu sekali kelemahanku dan untuk ketiga kalinya malam
ini aku ejakulasi hanya dalam waktu beberapa jam. Pas saat aku keluar
Irene juga sudah didekat kami dan ikut mencicipi lagi air maniku.
Kali ini aku ’habis’ dan tanpa dapat ditahan sekejab kemudian aku sudah lelap.
Mataku masih terasa sangat berat untuk dibuka, namun suatu perasaan
aneh menjalariku, rasa hangat dan nikmat di selangkanganku mulai
menyerang, aku masih terpejam …, entah siapa yang memainkan mulutnya di
batang kemaluanku yang dengan cepat sudah kembali menegang, dan
sejujurnya.., aku tidak peduli. Namun rasa tidak peduli itu berubah
ketika sebuah mulut hangat lainnya menelusuri dadaku, mengemut puting
dadaku dan naik keatas lalu mencium mulutku, lidah kami bertautan dan
saling mengisi rongga mulut masing-masing, tanganku bergerak memeluk
tubuhnya dan ketika akhirnya kubuka mataku, kulihat Wirda yang menciumku
dengan hangatnya dan entah siapa yang masih asyik dengan mulutnya di
batang kemaluanku, aku belum tahu.
Wirda bergerak menurun dan kini kedua wanita itu seakan memperebutkan
batang kemaluan yang kumiliki, mereka bergantian menghisap dan
menjilatku, bila yang satu menghisap dan memasukan batang kemaluanku
dalam mulutnya maka yang lain menjilati bijiku dan sebaliknya, aku
mengangkat kepalaku ternyata wanita satunya adalah Irene.
Gerakan mereka terhenti sebentar, Wirda mengambil posisi dan setengah
berjongkok ia mengarahkan batang kemaluanku menembus vaginanya
sementara Irene menggenggam bijiku, dan setelah terbenam seluruhnya
Wirda mulai bergoyang rodeo, seakan dia cowboy dan aku kudanya, buah
dadanya berayun ayun, aku masih belum sempat ’menyelaraskan’ irama
gerakan ku ketika entah dari mana Irene ’menduduki’ wajahku dan
menyodorkan vaginaku yang kujilat dan kusedot sedot, tanganku melupakan
buah dada Wirda dan memegang pantat Irene, dengan jariku ’kubelah’
vaginanya dan lidahku masuk sedalam mungkin sesekali kusedot dan kuemut
emut klitorisnya.
Tidur tadi rupanya tidak membuatku menjadi lebih perkasa karena mulai
kurasakan denyut denyut di batang kemaluanku, tanda bahwa aku tak kan
tahan lama, namun aku juga pantang mengecewakan wanita, maka supaya
’selesai’ bersama, jariku kumasukan ke vagina Irene dan klitorisnya
kesedot, ku emut dan kuhisap dengan teratur, terasa lendirnya makin
banyak memasuki mulutku dan desah serta erangannya semakin keras, Wirda
juga mengayunkan pantatnya dengan batang kemaluanku tertancap di
vaginanya semakin cepat.
Baca cerita sex cewek berjilbab di –> cerisex.net
Tidur tadi rupanya tidak membuatku menjadi lebih perkasa karena mulai
kurasakan denyut denyut di batang kemaluanku, tanda bahwa aku tak kan
tahan lama, namun aku juga pantang mengecewakan wanita, maka supaya
’selesai’ bersama, jariku kumasukan ke vagina Irene dan klitorisnya
kesedot, ku emut dan kuhisap dengan teratur, terasa lendirnya makin
banyak memasuki mulutku dan desah serta erangannya semakin keras, Wirda
juga mengayunkan pantatnya dengan batang kemaluanku tertancap di
vaginanya semakin cepat.
Dengan tangan berpegangan pada bahu Irene yang juga bergerak dengan
liarnya diatas wajahku, akhirnya Wirda dengan setengah menjerit disertai
nafas yang memburu keras berteriak
”Ahhs….ss….st…god ..keluar,,….ahhhh”, disusul Irene yang akhirnya juga mencapai puncaknya.
Aku yang tak tahan lagi akhirnya ’meledak’ dengan dahsyatnya…
”ahhh..st………aaahhh……, namun aku tidak bisa memeluk siapapun dan hanya
bisa meremas buah dada Irene yang masih ’menduduki’ wajahku dan
menyemburkan seluruh sisa persediaan air maniku dalam vagina Wirda.
Bertiga akhirnya kami terkulai dan rasanya semua itu bagiku seperti
mimpi karena kejab berikutnya aku sudah kembali terlelap dengan wajah
penuh lendir Irene dan kemaluan yang menciut namun masih ’basah kuyup’
Cahaya silau menerpa mataku, ternyata hari sudah terang, entah siapa
yang menutupi tubuhnku dengan selimut, karena aku sudah terbungkus dalam
selimut, walau masih tetap telanjang, ketika kulirik ternyata aku
sendirian, lalu kemana emapat wanit yang semalam menemaniku ?, Aku
bangkit dari tempat tidur dan seperti biasa, batangku juga ikut ’bangun’
dengan menguap lebar aku melangkah mengambil air minum, lalu kekamar
mandi, ketika kubuka pintunya
”Aw..” sebuah teriakan kecil mengejutkan ku, ternyata Cintya sedang
berendam di bathtub, dengan busa dan gelembung sabun menutupi tubuhnya,
”Pagi…” kataku, ”yang lain nya kemana?” tanyaku sambil melangkah ke
toilet dan sambil menunggu jawabannya aku membuang air seniku ditoilet,
wah..banyak sekali pagi ini, mungkin karena habis terforsir semalaman.
”Lagi pada jalan.., katanya sih mau cari oleh-oleh” jawabnya,
”Ok..ya udah santai aja Cyn.., kataku..sambil melangkah ke washtafel, mengambil sikat gigi dan menggosok gigiku.
”Ikutan ya ?” pintaku menghampiri bathtub, dan dengan segera Cynthia
memberika ruang bagiku dihadapannya, dan kamipun berendam bersama, namun
karena tidak cukup lebar maka posisi kami berhadapan.
Kakiku yang satu menumpangi pahanya dan kaki satunya ditumpangi oleh
kaki Cinthya dan isengnya…jari jari kakinya menyentuh batang kemaluanku.
” Mas ..” kata Cynthia lembut
”Hmmm..”jawabku sambil tetap memejamkan mata menikmati hangatnya air sabun dan sntuhan kakinya di kemaluanku.
”Aaaah…males ih.., mau diajak ngobrol malah merem..”katanya manja
Ia bangkit, menarik tanganku dan kamipun berdiri, tanpa menggunakan
aba aba kami sudah berpelukan dengan tubuh licin karena busa sabun,
seperti ikan belut ia menggelinjang dan menggeserkan tubuh dan buah
dadanya yang besar merangsang itu ditubuhku, kemaluanku yang tegang
bertambah keras rasanya.
Kunyalakan air dan memancur melalui deuce yang digantung dan sambil
berpelukankami membersihkan busa sabun yang memenuhi tubuh kami.
Sambil berpelukan dan berciuman, tanpa mengeringkan tubuh kami menuju
ranjang dan langsung bergumul. Kali ini tanpa ada yang ’mengganggu’,
kunikmati betul buah dada yang besar itu, kuremas, kuhisap putingnya,
kusedot dan kumainkan sepuas mungkin sementara Cynthia juga tidak
tinggal diam, tangannya memainkan dan meremas kemaluanku.
Dengan posisi diatas aku leluasa mengatur permainan, kini dengan
lidah menelusuri tubuhnya terus kebawah aku sampai di vaginanya. Saat
terang begini terlihat kalau vaginanya masih bagus, sedikit direkahkan
nampak kemerahan dengan kebasahan yang mengundang selera, dan Cintya
memang berkulit halus, tidak terlalu putih namun juga tidak gelap,
puting susunya merah kecoklatan, dan klitorisnya masih sangat ’layak’
dijilat.
Aku tidak mau tanggung, kuganjal pinggulnya dan kuangkat kakinya
sehingga aku semakin leluasa mengembara di vaginanya, sesekali kuberi
’perjalanan keliling dunia’ ketika lidahku menyapu anusnya, lalu tanpa
memberi kesempatan lagi aku bangkit dan meletakan kakinya di pundakku,
dan batang kemaluanku sudah terarah ke vaginanya.
”Mmm…kemulut dulu…” protesnya
”ssshh…udah nggak tahan nih…” kataku
Memang siapa yang akan tahan lama pagi pagi bersetubuh, itu hukum
alam, kalau pagi, setelah bangun tidur, sperma sudah diperoduksi
maksimum pasti tidak akan bertahan lama, apalagi wanita yang kuhadapi
ini memiliki mulut yang sedemikian nikmatnya.
”Blessss..” kemaluanku langsung kutanamkan sedalam mungkin hingga
matanya agak terbeliak saat vaginanya dimasuki langsung begitu, lalu
pantatku mulai mengayun dengan irama yang teratur.,
Kini dapat kurasakan benar bagaimana nikmatnya vagina Cinthya, legit dan enak.
Kurendahkan tubuhku sambil tetap bergoyang dengan irama yang teratur
dan mulutku berhasil mencapai mulutnya dengan kakinya masih tetap
dipundaku, vaginanya seakan menelan kemaluanku, dan posisi ini ternyata
membuatnya sangat nikmat..
”ah..ah…,sssh…enak…aduh…enak….ah hh” racaunya tak henti henti, dan akhirnya
”cepet …cepet….mau keluar…” aku mengayunkan pinggulku semaksimal mungkin dan bersamaan kami mencapai puncak…
”sssh..ah.ssshh..hhh” entah usra dan lenguhan siapa yang paling keras.
Air maniku pun pagi ini sudah menyiram rahim dan vagina Cynthia. Ejakulasi yang pertama pagi ini.
Kami terdiam beberapa saat menikmati sisa sisa getaran kenikmatan, sebelum terkulai.
”Mas…, kalau Mas Andi ada…pasti langsung di masukin lagi nih, dia
paling senang kalau habis dipakai begini langsung masuk” katanya
menceritakan suaminya
”Iya..” jawabku, ”Memang enak kok…sloopy second” jawabku dan ia
tersenyum, mencium bibirku lalu bangkit menuju kamar mandi membersihkan
diri.
Aku juga bangkit, namun mengambil rokok dan menghisapnya penuh nikmat.
Cintya lalu kembali dan kami ngobrol macam macam hal. Masih tetap
telanjang dan aku sungguh senang menatap buah dadanya yang besar itu,
namun padat dan kencang menantang.
Agak lama kami menunggu hingga Anita dan lainnya kembali, dan saat mereka tiba
”Wah…..bugil bugilan” kata istriku menghampiriku dan mencium bibirku,
aku tahu ia pasti mencium aroma vagina di wajahku karena dengan kerling
nakal ia berkata..”Curang ya..udah start lagi” katanya. Aku hanya
tersenyum.
Kami sarapan dikamar, dan wajah heran waitres yang mengantarkan
makanan tak kuasa ia sembunyikan melihat 4 wanita, yang satu hanya
menutupi tubuhnya dengan selimut saat masuk dan aku yang juga masih
telanjang cuma menutupi ’barang’ ku dengan bantal.
Setelah kenyang, kami jalan jalan dipantai, wah…seperti raja dengan 4
permaisuri saja rasanya aku hari itu, sampai lupa memberi laporan sama
suami suami yang tertahan dengan pekerjaan.
”Hallo…, Hey..gimana…” suara Sonny memasuki gendang telingaku saat
Wirda memberikan HP nya padaku ketika suaminya menelpon ”Man…your wife
…lezat bener rasanya..” kataku , ”Sialan…., enak ya loe…gila…semua
digilir..? tanyanya.
”Bukan ..mereka yang menggilirku” jawabku sekenanya.
”Nih..Andi mau ngomong” katanya
”Hey,..thank’s ya…pagi pagi Cintya udah sarapan tuh…sarapan rohani…eh…susunya itu..aduh…nggak bosen deh ” kataku sambil tertawa.
”Diancuk….” Andi yang berasal dari Jawa Timur memaki dengan logatnya
yang khas dan kepada Herman pun aku sempat mengucapkan salam dan berkata
”Man..Irene mulutnya luar biasa ya… thank’s ya sering sering aja kalian
lembur begini ha..ha…”.
Suara tawa terdengar di ujung sebelah sana, memang begitulah pujian
tentang bagaimana nikmatnya rasa istri dari teman yang mencobanya adalah
nilai yang sangat ditunggu, karena memberikan kebanggan.
Siang itu, karena hari masih panjang, kami bersantai dan saat Irene
dengan Cintya berenang, aku ’ditangkap’ oleh Wirda, awalnya aku disuruh
telungkup, lalu punggungku dijilati dari leher samapi pantat, di
belahnya pantatku dan lidahnya menari nari disitu, aku kali ini tidak
diberi kesempatan menjilatinya karena saat berbalik, ia langsung berada
diatasku dan membenamkan batang kemaluanku dalam vaginanya, cukup lama
kami bersetubuh, karena tadi sudah keluar di vagina Cynthia aku jadi
agak lama, istriku kali ini hanya menonton, asli menonton memperhatikan
setiap gerakan kami, mengamati saat aku dihisap, dijilat dan sebaliknya,
dan rupanya ia menunggu, karena setelah Wirda mencapai puncaknya
terkulai dan lepas dari tubuhku, kemaluanku sudah memasuki vaginanya,
aku masih tetap dalam posisi dibawah. Hingga kami sama sama mencapai
nirwana.
Pas saat aku melepaskan kemaluanku dari vagina istriku, Irene dan
Cynthia masuk, mereka tersenyum dan Irene menghampiriku lalu
’membersihkan’ punyaku dengan lidahnya ”Pemanasan’ katanya..ketika aku
memandangnya. ”Habis ini ya”
Setelah beristirahat sebentar, Irene berusaha keras membangunkanku
yang lalu menuntaskan hasratnya dengan liarnya, kali ini ketiga wanita
yang lain menjadi penonton,.. hingga……. menjelang kami mencapai puncak,
Irene mencapai tujuannya beberapa saat lebih dahulu, dan ampun………….saat
aku keluar seperti sudah berjanji Irene melepaskan kemaluanku dan ketiga
mulut yang selalu ’haus’ itu menjilati dan menghisap air mani yang
keluar sampai ngilu aku dibuatnya.
Kami masih bersantai hingga sekitar Pk. 15.00, dan sesaat sebelum
berkemas mereka gantian kembali menjilat dan menghisap batang
kemaluanku, namun hanya istriku yang menerima air maniku karena aku
mengeluarkannya dalam-dalam di mulutnya, …namanya juga etika suami
istri…. lalu kami pun siap untuk pulang ke Jakarta,
Hampir sepanjang perjalanan pulang semua tertidur karena lelah dan
ini adalah perjalanan terberat yang kulakukan, mataku benar benar
berjuang untuk tetap terbuka dan menjaga konsntrasi pada jalan raya.
Perlu waktu hampir tiga hari bagiku untuk memulihkan kondisi, bahkan
dua hari pertama setelah pulang punyaku sama sekali tidak bangkit walau
pagi hari sekalipun, terlalu diforsir rupanya, namun pengalaman tersebut
adalah salah satu yang sangat mengesankan. – Cersex Cerita Sex, Cerita
Dewasa, Cerita Ngentot, Cerita Mesum, Cerisex Terbaru 2015
Langganan:
Posting Komentar
(
Atom
)
0 komentar:
Posting Komentar