Cersex Cerita Sex, Cerita Dewasa, Cerita Ngentot, Cerita Mesum, Cerisex Terbaru 2015 – Cerita Sex: Majikan Nafsu
– Aku Dina, saat itu aku sedang berkelana di Bali, sebabnya adalah
karena aku bertengkar dengan ayahku (ibuku sudah meninggal). Ayahku
mengatakan bahwa aku tidak produktif, karena tiap ari kerjaku hanya
menghambur2kan uangnya saja dengan belanja sana sini. Memang aku ini
maniak blanja, laper mata sehingga melihat apa saja yang bagus kubeli,
padahal aku gak butuh2 amat.
Kebetulan kondisi keuangan ayahku mendukung kebiasaan maniakku itu.
Ayah sering menegurku karena kebiasaanku yang tidak produktif itu. Aku
tersinggung, sehingga timbul keinginanku untuk hidup mandiri, dan lokasi
yang kupilih adalah Bali, kata temenku disana banyaklah kerjaan kalo
mau kerja apa saja. Begitulah, akhirnya aku terdampar di kota Bali,
seorang diri, tanpa sodara dan teman. Mula-mula bingung juga aku mo
ngapain. aku settle di satu losmen yang mur mer, untuk menghemat
pengeluaranku. Mencari makan juga di warung2 sederhana yang mur mer
juga. Cukup sengsara
Read more
hidupku diawal-awalnya karena aku sudah terbiasa
dengan kehidupan yang serba kecukupan di rumah ayahku.
Tetapi tekadku untuk mandiri, lepas dari ayahku kupelihara teguh,
rasa sengsara, perlahan-perlahan menjadi biasa karena aku berusaha keras
untuk menikmatinya. Segala macam usaha untuk mendapatkan uang walaupun
sedikti aku lakukan, demikianlah aku kerja serabutan, apa saja kulakoni,
kecuali yang satu itu, jual diri. Terus terang saja, waktu tinggal
dengan ayahku, aku mempunyai banyak pacar, dan dengan pacar2ku itu aku
sering sekali mereguk kenikmatan sex. Ini yang kadang menyiksaku, ampir
gak tahan aku menahan diri untuk tidak ngesex dengan lelaki yang banyak
seliweran disekitarku.
Mereka suka dengan kecantikanku yang alami, warna kulitku yang putih
mulus, tubuhku proporsional, toketku gak besar tapi gak bisa dibilang
tocil. Pinggulku agak besar, sehingga kalo lelaki melihat aku memakai
celana ketat baik panjang maupun pendek, dari belakang pasti napsu
melihat gerakan pinggulku yang seirama dengan langkahku. Pinggulku
menggeyol indah kekanan kekiri.
Baca cerita sex cewek berjilbab di –> cerisex.net
Ada juga lelaki bule yang ngganteng banget, kaya aktor hollywood,
yang terang-terangan ngajakin aq bercinta, malah dia menjanjikan segepok
dolar amrik kalo aku bisa meladenin napsunya, tapi aku masih coba
bertahan untuk tidak menerima tawaran yang sangat2 menggiurkan itu,
dapet uang dan dapet kepuasan sex , palagi kan katanya kon tol bule tu
gede panjang. kon tol pacar2ku ya standard ukuran orang kitalah,
walaupun harus diakui aku mendapat kenikmatan juga dari penis-penis
standard itu.
Sampe suatu siang, ketika aku berjalan didepan sebuah rumah makan,
tiba-tiba ada sebuah sedan mewah yang memotong didepanku, sehingga aku
terjatuh. Dari dalem mobil mewah itu keluar lelaki. Melihat wajahnya,
rasa marah yang meluap2 karena aku diserempet sampe jatuh (kaya Cici
Paramida aja ya) walaupun gak sampe lecet2, sirna seketika. Lelaki itu
sangat tampan, bodinya sangat atletis. Dia segera menolongku bangkit
sambil minta maaf dengan sangat.
“Wah mbak, maaf sekali ya, saya sedang terburu2, sehingga gak liat
mbak lagi jalan. Ada yang luka mbak, ay0 saya antar ke rumah sakit”.
“Gak kok mas, cuma kaget saja”. Dia mengeluarkan hp nya, dia berbicara dengan seseorang untuk mengcancel pertemuannya siang ini.
“Wah mbak, sebagai permintaan maaf dan bersyukur karena mbak gak sampe
luka, gimana kalo saya traktir makan siang di resto ini”. Aku melihat
nama restonya, wah ini resto mewah yang makanannya mahal2, di deket
rumah ayahku juga ada resto ini.
“Ya deh mas, atau saya manggil apa enaknya”. “Saya … (dia menyebutkan
namanya), mo manggil mas bole, manggil nama juga bole kok. Kalo mbak?”
“Aku panggil mas aja deh ya, kayanya mas jauh lebi tua dari aku. Aku
Dina, mas”. Aku digandengnya masuk restoran yang terletak dipinggir
pantai.
Kelihatannya dia sudah menjadi pelanggan resto ini, kelihatan dari
banyaknya waiter yang eknal dia. Dia milih tempat menghadap kelaut.
“MO makan apa mbak?”
“Jangan panggil mbak ah, Dina aja”.
“Ya deh, Dina mo makan apa”.
“Aku ikutan mas aja deh, mas kan yang tau menu yang enak2 dari restoran ini”.
“Doyan seafood kan?”
“Doyan mas, aku apa juga aku makan, kecuali batu ma kayu ma beling”.
“Bisa aja kamu, kok beling”.
“Soalnya aku belon blajar ilmu kuda lumping”. Tertawanya berderai mendengar guyonanku.
“Bener kan tadi gak apa2 kamu Din”.
“Gak apa kok mas, aku cuma kaget”.
“Sekarang masih kaget?”
“Masih mas”.
“Lo kok masi kaget”.
“Ya mas, kaget, kok ada ya lelaki didunia ini yang seganteng mas”.
“Bisa aja kamu”. Demikianlah selama makan, kami bercanda2.
Setelah makan selesai, dia bertanya lagi.
“Kamu ke bali dalam rangka apa Din?”. aku menceritakan kondisiku dengan ringkas.
“O, kamu lagi cari kerjaan toh, ditempatku aja, mau?”
“Jadi apa mas”. Aku perlu asisten buat koordinir kerjaan di rumahku, ya kerjaan rumah tangga lah”.
“Jadi pembantu gitu?”
“O enggaklah, masak prempuan secantik dan seseksi kamu dijadiin
pembantu. Kaya kepala house keeping gitu, mau gak, bole tinggal
dirumahku kok, gratis, makan minum juga gratis”.
“Tapi gak dapet gaji?”
“Ya dapet lah, mau ya. butuhnya urgetnt neh, kalo gak kasian asistenku
yang sekarang ini, dia dah bantu aku di pekerjaan, masih juga ketiban
kerjaan ngurus rumahku”.
“Iya deh, buat mas yang ganteng apa si yang enggak?”
“Oke kalo gitu mulai hari ini ya, abis makan kita ambil barang2 kamu dari losmen, dan kerumahku.
Aku akan kasi kamu …. sebulan (dia menyebutkan satu angka yang besar).
“Mau mas”. Demikianlah aku pindah dari losmen murahan kerumahnya yang lebih besar lagi dari rumah ayahku.
Aku diperkenalkan kepada sejumlah pembantu, ada yang urusan
membersihkan rumah, cuci mencuci, masak memasak dan membersihkan dan
merawat kebunnya yang luas, disamping ada seorang driver. Mereka semua
hormat padaku, karen aku diperkenalkan sebagai kepala house keeping. Aku
diajak ke satu kamar, besarnya seperti kamarku dirumah ayahku, ada
soundsystem dan tv besar, pake ac pula (dilosmen aku bermandi kringet
tiap malem karena so pasti murah ya tanpa fasilitas apa2, termasuk ac).
“Wah mas, enak banget ya kerja ma mas”.
“Ya udah, kamu sosialisasi ma para pembantu, aku mesti pergi ke kantor
ya”. Aku ditinggal bersama sejumlah pembantu, aku mencoba akrab dengan
mereka semua dengan bersikap merendah.
“Ibu bapak, aku cuma kebetulan disuru jadi kepala house keeping, tapi
aku tu pasti kala pengalaman ma ibu bapak, jadi kerjaan kita kroyok
rame2 ya, aku bersedia kok melakukan kerjaan ibu bapak juga”.
Mereka senang karena aku gak sok2an, mentang2 ditunjuk jadi kepala,
sebentar saja aku dah bisa berakrab2 dengan mereka semua, ngatur kerjaan
dengan mereka semua. Cuma mereka sungkan kalo aku mbantu melakukannya.
Ya udah akhirnya ya kalo mereka sibuk banget aku bantu, kalo enggak ya
aku santai saja. Di halaman belakang rumah ada kolam renang yang lumayan
luas, kerjaan pak bon yang membersihkan kolam yang jarang sekali dipake
seminggu sekali. Aku dengan segala senang hati mbantu pak bon yang dah
berumur itu membersihkan kotoran yang nempel didinding kolam.
Dengan pak sopir, aku juga bisa berakrab2, palagi pak sopirlah yang
mengantarkan aku membeli semua keperluan rumah tangga, dan diriku
sendiri, dengan catatan si mas gak make mobilnya. Kadang karena tau aku
perlu banget pergi, si mas rela nyetir sendiri kekantornya supaya pak
sopir bisa nganterian aku kesana kemari dengan mobil satunya lagi, gak
semewah mobil si mas yang pasti, tapi cukuplah untuk beli2 ini itu.
Maklumlah si mas itu pengusaha yang sukses dalam bisnis mobil mewah
import build up. Demikianlah aku menjalani hari2ku dengan segala senang
hati, kerjaan gak berat2 amat, uang berlimpah karena semua kebutuhan
hidupku dipenuhi si mas, malah kadang si mas membelikan aku pakaian kalo
aku harus ikut bantu di kantor. Kadang ada event besar dimana aku juga
harus turut bantu asisten yang satunya lagi. yaman sekali kan.
Sampe suatu malem, si mas ngetok kamarku.
“Napa mas?” “Aku lagi bete Din, temenin aku keluar yuk”. Tumben dia
ngajak aku keluar, biasanya aku liat di kantor, banyak prempuan2 muda
yang cantik2 yang seliweran disekitarnya.
“Lo, kan biasanya mas jalan ma mbak ajeng apa mbak Lina”.
“Aku bosen ma mreka Din, mreka tu cuma ngincer uangku aja, makanya penuh basabasi dan kaya pake topeng”.
“rus koq mas ngajak aku”.
“sejak aku ketemu kamu, kamu kayanya memperlakukanku apa adanya. Kamu kliatan sekali melakukan kerjaan kamu dengan senang ati”.
“Laiyalah mas, mana ada kerjaan yang lebi asik dari mbantu mas ngurus
rumah besar ini, santai, trus mas ngasi duwitnya besar lagi, utuh lagi,
karena semua kebutuhanku mas penuhi. Makanya buru2 cari permaisuri dong
mas, jadi mas gak sepi dirumah besar ini”.
“ada kamu koq yang bisa bikin aku tentram, ngobrol ma kamu kayanya
ngobrol ma orang yang dah lama aku kenal, padahal kamu baru 3 bulan ya
dirumahku”.
Aku dibawanya ke dermaga dipinggir laut, sambil berjalan2 menikmati
angin laut yang cukup kencang, kami ngobrol saja sambil berjalan
menyusuri dermaga yang menjorok kelaut. Sampe diujung, kamu duduk
ditangga yang turun ke bebatuan ditengah laut, angin cukup kencang
menyapu ombak, sehingga ketika ombaknya memecah di bebatuan, airnya
memercik tinggi sekali, demek deh pakean kami.
“Mas dingin ni lama2 disini, bisa basah semua bajuku”. Aku saat itu
memakai jins ketat dan tanktop ketat sehingga lekakliku bodiku keliahatn
dengan jales.
aku kadang melihat juga sebersit kesan napsu di pandangan mata si mas. Biar aja, lelaki normal pasti juga gitu kalo ngeliat aku.
“Ya udah, balik yuk, kita cari miuman anget aja ya, dipntai kayanya ada deh warung kopi atau semacam itu.
Kembalinya dia menggandenga tanganku, karena dia sering menggandeng
tanganku kalo sedang berjalan berdua aku, aku diem saja. Sesampai
dipantai, kami mampir di warung kopi itu. Ramai juga suasana. ada
beberapa prempuan muda yang menyapa si mas, tapi begitu melihat ada aku,
mreka gak jadi mendekat.
“Mas, terkenal ya, banyak temennya”.
“Iya mreka kan pake topeng, yang disapa itukan duitku”.
Pulang kerumah, dia bilang,
“Din aku mo brenang, mo ikutan gak?”
“Dah malem gini koq brenang si mas, kan dingin”.
“Justru kalo malem gini brenang airnya anget, bisa bikin relax, jadi gampang tidurnya”.
“aku gak punya pakean renang, mas”.
“aku punya bikini, kamu mo pake?”
“Siapa punya mas, cewek2 mas ya”.
“Ah enggak, aku perna beli buat ole2 tapi akhirnya gak jadi aku kasi,
buat kamu ja ya”. Dia masuk kekamarnya dan keluar membawa bikini itu.
‘Seksi amat mas bikininya”, kataku karena bikininya minim sekali.
“Prempuan seksi kudu pake pakean seksi dong”. Karena saat itu dah malem, para pembantu dah istirahat.
“Tu ganti ja dikamar bilas”, katanya menujuk ke satu bangunan pondokan yang merupakan kamar bilas.
Aku masuk kesana, membuka pakeanku dan mengenakan bikini minim itu.
Ketika aku keluar si mas dah nunggu aku didipan memakai celana gombrong.
“Wah seksi kamu Din”. Karena minim makanya sebagain besar bodiku terpampang dengan jelas.
Toketku gak tertutup bra semuanya sehingga belahannya kelihatan
dengan jelas. Palagi jembutku yang lebat, ngintip dari belahan kaki cd
nya. Kupikir ya biarlah dia menikmati tubuhku, cuma ngeliat ja gak apa,
pikirku. Kami berenang mondar mandir beberapa kali.
“Din, kamu napsuin deh”, bisiknya ketika kami istirahat dipinggir kolam.
Wah signal2 gak beres neh, pikirku. tapi aku diem aja,
“udahan yuk mas, dingin lama2″.
“aku mau koq ngangetin kamu”, katanya sambil memelukku dan mencium bibirku.
“Din, dah lama aku suka ma kamu, terangsang ma bodi kamu. kamu ma ya Din
ngeladenin aku malem ini”. Ciumannya asik, kumisnya menggesek bibirku,
palagi selama dia mengulum bibirku, tangannya asik memerah toketku dari
luar braku.
bendunganku bobol juga, sekian lama aku menahan napsuku untuk gak
mikirin sex akhirnya gak ketahanan juga. aku diem saja ketika dia
menggandengku masuk ke kamarnya. Pakean luar ku dan dia punya cuma
kutenteng masuk kekamarnya.
Dikamar, kembali dia memeluk aku dan mencium bibirku, lembut dan
lama. Aku agresif sekali menyambut ciumannya, maklum deh aku dah nahan
napsuku lama sekali, sekarang ada yang kasi kesempatan, aku gak bisa
nahan diri lebih lama lagi. Dia terus mencium bibirku dan mulai
dilumatnya dengan penuh napsu. Aku membalas lumatannya juga.
“Din, aku suka sama badanmu yang montok”, katanya sambil menciumi leherku. Aku diam saja, cuma mengusap2 pinggungnya.
tangannya mulai meremas2 toketku. Gak lama kemudian dia melepaskan
braku. Ciumannya menjalar menyusuri leherku dan belakang kupingnya. Aku
menggelinjang kegelian,
“Geli mas “. Aku makin menggeliat ketika lidahnya menyelusuri toketku dan turun di belahannya.
Dia terus memainkan lidahnya di toketku tapi tidak sampai ke pentilnya.
“mas diisep pentilnya dong, nanti Dina isep kon tol mas juga”, aku mendesah2.
Dia terus saja menjilati daerah sekitar pentilku, tapi pentilnya
tidak disentuh. Kemudian ciumannya turun ke arah perutku sambil
tangannya mengusap2 daerah me mekku. Aku gak tahan lagi, kepalanya
kutarik dan kudekatkan ke pentilku.
“Diisep dong mas “, rengekku. Dia segera mengisap pentilku dan tangannya meremas toketku.
“Terus mas , diisep yang keras mas , enak mas akh”, erangku.
Dia mengemut pentilku bergantian, demikian pula toketku diremasnya
bergantian. Sesekali tangannya mengelus2 it ilku dari luar CDku. Aku
bangkit, kulepas semua yang menempel dibadannya. kon tolnya yang besar
dan panjang sudah ngaceng dengan kerasnya.
“kon tol mas besar dan panjang ya mas , keras banget lagi”, kataku sambil menciumi kon tolnya dan kukenyot kepalanya.
Kepalanya kemudian kujilati dan jilatanku turun ke arah bijinya. Seluruh kon tolnya kujilati.
“Enak Din terusin dong emutannya”, katanya. CDku langsung dilepasnya,
“Ni jembut lebat banget”, katanya sambil mengelus2 jembutku yang tambah
basah karena lendir me mekku.
Aku dibaringkan diranjang dan kemudian dia memutar tubuhnya sehingga posisinya menjadi 69. Dia mulai menjilati me mekku.
“Enak mas , terus”, erangku keenakan. Aku makin menggelinjang ketika lidahnya menyentuh it ilku.
kon tolnya kuemut dengan keras, kepalaku mengangguk2 mengeluar
masukkan kon tolnya dimulutku. Karena napsuku yang sudah berkobar,
akhirnya aku gak bisa bertahan lebih lama lagi, aku nyampe kerana it
ilku dikenyot2nya,
“mas , aku nyampe mas , aakh”. kon tolnya kukocok dengan cepat keras sambil menikmati nyampeku.
“Din, aku mau ngecret juga Din”, katanya terengah.
Segera kepala kon tolnya kuemut lagi dan kukenyot dengan keras,
tanganku terus mengocok kon tolnya sampai akhirnya dia ngecret
dimulutku. Banyak banget pejunya nyembur sampe meleleh keluar dari
bibirku. kon tolnya terus kukenyot sampe denyutan ngecretnya hilang baru
kulepas. Pejunya kutelan tanpa rasa jijik,
“Din nikmat banget ya emutanmu, pastinya emutan me mekku lebih nikmat
lagi ya”, katanya terengah. Aku berbaring disebelahnya, kupeluk
badannya. Belum di entot saja dia sudah menggiring aku ke kenikmatan.
Setelah itu kami membersihkan diri di kamar mandi. Didalam kamar
mandi pun kami saling membersihkan badan pasangan. kon tolnya mengeras
lagi ketika kukocok2 pelan2, aku jongkok didepannya dan mengemut kon
tolnya lagi, langsung saja kon tolnya ngaceng dengan kerasnya. Kepalaku
bergerak maju mundur memasuk keluarkan kon tolnya dimulutku. DIa gak
bisa menahan diri lagi, langsung dia duduk di toilet, aku dipangkunya
menghadap dirinya, sambil mengarahkan kon tolnya ke me mekku. Segera kon
tol besarnya nancep dime mekku, terasa sekali me mekku melebar untuk
menampung kon tolnya yang dienjotkan pelan2 sehingga makin nancep di me
mekku,
“Enak mas , ssh”. Aku mengenjotkan badanku maju mundur supaya kon
tolnya bisa nancep dalem di me mekku, diapun mengenjotkan kon tolnya
juga sehingga terasalah gesekan kon tolnya dime mekku.
Nikmat banget rasanya. Sedang nikmat2nya, tiba2 dia berhenti
mengenjotkan kon tolnya. Dia menyuruhku memutar badanku tanpa mencabut
kon tolnya dari me mekku.
Aku disuruhnya nungging sambil berpegangan di wastafel. Mulailah dia
mengenjotkan kon tolnya dari belakang. Sambil mengenjot, toketku yang
mengayun2 seirama enjotannya diremas2nya.
“Akh mas , nikmat banget mas . kon tol mas nancepnya dalem banget
mas. Sesek me mek aku rasanya, gesekan kon tol mas kerasa banget, enjot
terus yang cepet mas , aku udah mau nyampe lagi”, erangku.
“Cepet banget Din”, katanya.
“Abis nikmat banget sih mas kon tolnya, jadi aku gak bisa nahan lagi”,
erangku. Dia makin cepat mengenjotkan kon tolnya keluar masuk sampe
akhirnya aku menggelinjang dengan hebat,
“Akh mas , aku nyampe lagi, aku lemes mas “, erangku terengah2. Karena aku mengeluh lemes, dia
mencabut kon tolnya yang masih perkasa dan minta diemut lagi.
Dia kembali duduk di toilet dan aku berlutut didepannya. Kembali kon
tolnya kuemut2 sambil kukocok2 dengan cepat dan keras, sampe akhirnya,
“Din, aku ngecret lagi Din”. Dia mengecretkan pejunya lagi didalem
mulutku. Walaupun ini yang kedua, pejunya tetep saja banyak ngecretnya.
Seperti tadi pejunya kutelen sambil terus mengemut kon tolnya.
Kami balik keranjang dan berpelukan, gak lama kami tertidur, penuh
rasa kenikmatan terutama buat aku. Subuh aku terbangun, segera aku
memakai pakeanku dan kleuar kamarnya, kalo maen lagi bisa keterusan
tidurnya, nanti jadi bahan gosip orang serumah lagi.
“Mas lanjutin nanti malem lagi ja ya, biar gak ada yang tau”, kataku sambil meninggalkan kamarnya.
Belum ada yang bangun sehingga aku mengendap2 menuju kamarku.
Dikamarku, aku melepas semua yang kukenakan, berbaring dan meraba2
seluruh badanku, masih terasa bagimana besarnya kon tolnya menyesaki me
mekku. Napsuku timbul lagi, aku menahannya, nanti malem kan bakalan ada
ronde berikutnya. Hari itu berlalu dengan sangat lambat rasaku. Dia
bilang, nanti malem kita create alesan miting di hotel sore sampe malem,
jadi gak pulang kerumah, biar bisa muas2in maen ampe pagi. Aku mah hayu
ja.
Menjelang sore, dia pulang kerumah, dia kasi instruksi ma para
pembantu bahwa dia akan miting sore sampe jauh malem, aku akan diajak
supaya tau apa yang harus dilakukan kalo aku bantu juga jadi asisten di
pekerjaannya. Para pembantu mah iya aja, namanya juga big boss yang
ngomong. Aku disurunya pakean rapi, seperti beneran mo pergi miting.
Menjelang magrib, aku ikut mobilnya, dia drive sendiri karena malem ini
kebetulan pak sopir ada keprluan, gak tau ini kebetulan atau dia yang
nyuru pak sopir off.
Bilangnya si pak sopir yang minta off karena ada keperluan. gak
pentinglah itu. Kami cari makan malem dulu, santai karena kami punya
waktu seluruh malem sampe pagi. Setelah makan, dia membawaku ke satu
hotel bintang 5, super mewah lah pokoknya, dia juga pesen kamar suit
buat merayakan kenikmatan bagi kami berdua. Hari dah larut malam.
“Mas, ngapain pesen yang paling mahal, kan cuma buat ngen tot kan”.
“Bener si cuma buat ngen tot, tapi aku mau ngen totnya kita ini berkesan
buat kamu, juga nuat aku”, jawabnya sambil mencium bibirku, mula2 si
lembut.
“aku beli bikini laen, kamu pake deh”.
“Mangnya mo berenang mas, mana kolam renangnya”.
“Berenang kan gak usah dikolam, diranjang juga bisa kan”. Dia tersenyum.
Aku segera masuk ke kekamar mandi, membuka semua pakeanku dan
mengenakan bikini itu. sama minimhya dengan yang semalem, sehingga ampir
semua bagian tubuhku terekspose dengan indahnya. Dia membelalak meliat
bodiku yang seksi itu, segera aku dipeluknya dengan erat. Bibirku
langsung diciumnya dengan penuh napsu, lidahnya yang dijulurkan ke
mulutku kuisep kuat2 juga. Aku melingkarkan tanganku di lehernya. Dia
langsung meremas2 toketku. Terasa kon tolnya sudah ngaceng menekan ke
perutku.
Dia terus saja meremas2 toketku, ikatan braku diuraikannya sehingga
terlepas. Baru kupakai gak sampai 5 menit dah dilepas lagi, he he.
pentilku yang sudah mengeras langsung dijilatinya. Aku jadi
menggelinjang kegelian dan juga nikmaat. Jilatannya turun terus ke
bawah, ke puserku dan terus menciumi daerah me mekku. CD bikiniku sudah
basah.
“Din kamu sudah siap dien tot ya, udah basah begini”, katanya sambil melepas ikatan CDku.
Gantian aku yang segera melucuti semua pakaiannya sehingga kita sudah
berbugil ria. Dia membopongku sambil terus menciumi bibirku, kuat juga
dia membopongku. Aku dibaringkan di ranjang, dia terus menciumi seluruh
tubuhku, napsuku sudah berkobar2, berkali2 aku menggelinjang. Sambil
mengulum bibirku, tangannya mengelus2 pinggulku, kemudian jarinya mulai
mengilik me mekku dan akhirnya it ilku yang menjadi sasaran. Aku
mengangkangkan pahaku supaya dia mudah mengakses me mek dan it ilku. Aku
menggeliat2 saking napsunya. Jarinya makin cepet menggesek it ilku, aku
mengangkat2 pantatku karena sudah pengen banget dienjot,
“Ayo dong mas , aku dien tot, udah pengen banget kemasukan kon tol mas lagi”, rengekku.
Dia kemudian menelungkup diatasku, kon tolnya diarahkan ke me mekku dan mulai nancep kepalanya di me mekku,
“Akh, enak mas , masukin semuanya mas “, lenguhku.
Dia mulai mengenjotkan kon tolnya keluar masuk, makin lama makin
cepat dan akhirnya dengan satu enjotan keras seluruh kon tolnya nancep
semuanya di me mekku,
“Akh, enak mas , masuk semuanya ya mas , me mekku sampe sesek banget
rasanya kesumpel kon tol mas “. Dia terus mengenjotkan kon tolnya keluar
masuk makin cepat dan keras, nikmat banget rasanya,
“Enak mas , terus mas , enjot yang cepet dong”, rengekku terus.
Setengah permainan dia mencabut kon tolnya dari me mekku,
“kenapa dicabut mas , belum nyampe”, protesku.
“Variasi dong”, jawabnya sambil menjepitkan kon tolnya yang keras banget di toketku.
Aku menjepit kon tolnya dengan toketku, dia bergerak maju mundur,
menggesekkan kon tolnya di toketku. Ketika dia memajukan kon tolnya,
kepalanya kuemut sebentar dan kemudian terlepas karena dia memundurkan
lagi, terus seperti itu.
“Enak Din”, erangnya. Setelah puas digesek toketku dia berubah posisi lagi,
“Kamu sekarang diatas ya Din”, katanya sambil berbaring.
Segera aku menaiki badannya dan menempatkan kon tolnya yang ngaceng
tegak di me mekku. Aku menurunkan me mekku pelan2 dan bles, kon tol
besarnya mulai ambles di me mekku,
“Akh, enak banget mas “, lenguhku.
Aku menaik turunkan pantatku dengan cepat sehingga kon tolnyapun
makin cepat terkocok2 didalem me mekku, nikmat banget rasanya. Dia pun
melenguh,
“Enak Din, terus yang cepet”. Aku merunduk dan mencium bibirnya, dia memeluk punggungku sambil gantian mengulum bibirku.
Dia meremes2 toketku yang berguncang2 seiring dengan naik turunnya
badanku mengocok kon tolnya. Pentilku diplintir2nya. Aku makin bernapsu
mengocok kon tolnya dengan me mekku. Dia memegang pinggulku sementara
aku terus mengocok kon tolnya. Kocokanku makin kencang,
“mas , aku sudah mau nyampe nih”, kataku terengah. DIa meraba it ilku dan dikilik2nya, ini mempercepat proses aku nyampe,
“Akh, mas , aku nyampe, akh nikmatnya”, lenguhku dan aku ambruk menelungkup dibadannya.
Aku mengeluarkan kon tolnya dari me mekku, masih perkasa kon tolnya.
Kemudian kon tolnya aku ciumi dan kepalanya aku emut, kepalaku
mengangguk2 mengeluar masukkan kon tolnya dalam mulutku.
“Din, kamu lihai dalam urusan ranjang nih, latihan sama siapa?” tanyanya.
Aku tak menjawab, kon tolnya terus kuemut sambil kukeluar masukkan di mulutku, batangnya aku kocok2 dengan cepat.
“Akh enak banget Din” erangnya.
Cukup lama aku mengemut kon tolnya, rupanya karena sudah ngecret 2
kali, dia bisa bertahan lama sekali. kon tolnya dikeluarkan dari mulutku
dan aku disuruhnya nungging dipinggir ranjang. Dari belakang sambil
berdiri dia
mencolokkan kon tolnya lagi kedalam me mekku, sekali enjot kon tolnya sudah amblas semua ke me mekku, ”
Akh, enak banget mas “, erangku.
Dia mengenjotkan kon tolnya keluar masuk me mekku, karena dia berdiri
enjotannya terasa lebih keras dan lebih cepat, nikmatnya gak
terlukiskan dengan kata2. Dia meraba2 lubang pantatku, kemudian terasa
jarinya ditusuk2kan kepantatku.
“mas sakit”, protesku.
Dia berhenti menusuk2 pantatku, pinggulku dipegangnya sambil
mengenjotkan terus kon tolnya keluar masuk dengan cepat dan keras. Dia
membungkuk dipunggungku supaya bisa meremes2 toketku yang berguncang2
seirama dengan sodokannya. Pentilku kembali diplintir2nya.
“Enak mas , terus enjotannya, aku udah mau nyampe lagi mas “, erangku.
“Cepet kok Din, aku belum ngerasa apa2″, katanya sambil terus mengenjot me mekku.
Akhirnya aku tak bisa nahan lebih lama lagi,
“mas , aku nyampe mas , akh”, aku tersungkur diranjang karena lemes,
kon tolnya tercabut dari me mekku, masih keras dan berlumuran lendirku.
Dia tidak memberi kesempatan aku istirahat, aku ditelentangkan dan
kon tolnya dimasukkan lagi ke me mekku, terus mulai dienjotkan lagi
keluar masuk dengan cepat dan keras.
“mas , kuat amat sih ngen totnya, aku udah lemes mas , abis udah 2
kali nyampe”, lenguhku, Dia tidak memperdulikan lenguhanku, terus saja
kon tolnya dienjotkan keluar masuk.
Rupanya dia udah mau ngecret, makin lama enjotannya makin cepet dan
keras, aku sudah pasrah saja telentang keenakan. Toketku diremas2 sambil
memlintir2 pentilku, akhirnya
“Din aku ngecret”, dan terasa semburan pejunya dime mekku.
Aku memeluk dan mengelus2 punggungnya.
“mas , nikmat banget ngen tot dengan mas , istirahat dulu ya mas ,
aku udah lemes banget”, dia mencabut kon tolnya dan rebah disebelahku.
Tak lama kemudian aku tertidur kelelahan.
Aku terbangun karena merasa ada yang mengelus2 toketku, dia sedang memandangi aku sambil mengelus2 toketku,
“udah pagi ya mas “, kataku setengah ngantuk.
“Belum baru jam 5, masih bisa seronde lagi ya Din”, jawabnya.
Luar biasa dia ini, gak puas2nya ngen totin aku. Aku dipeluknya dan
bibirku diciumnya, aku membalas memeluknya. kon tolnya mulai kuremas2
sehingga terasa kembali mengeras, terus saja kuremas2 sampe jadi keras
sekali. Dia sudah siap nyodok me mekku lagi. Aku bangun dan mulai
mengisap kon tolnya, dia merubah posisi menjadi 69 sehingga bisa
mengakses me mekku. me mekku dijilatinya, aku mengangkangkan pahaku
sehingga dia bisa menjilati it ilku, Isepan ku menjadi melemah karena
serangan fajar nya di me mekku,
“mas , subuh2 gini sudah ngasi kenikmatan lagi buat aku”, kataku sambil mengocok2 kon tolnya.
“mas , aku sudah napsu banget, dimasukin lagi dong mas “, pintaku.
Dia sudah napsu juga, segera aku ditelentangkan, dinaiki dan kon
tolnya ditancapkan lagi ke me mekku, kemudian mulai dienjotkan keluar
masuk. Sebentar saja seluruh kon tolnya sudah nancap kemabli di me
mekku, enjotannya tambah cepat dan keras,
“Enak banget mas “, erangku. Dia terus saja mengenjot me mekku dengan kon tolnya. Akhirnya kembali aku mengejang keenakan,
“mas , aku nyampe mas . mas pinter amat sih nyodok me mekku, sebentar saja aku sudah nyampe”, lenguhku.
Dia terus saja mengenjotkan kon tolnya keluar masuk. Cukup lama dia
mengenjot me mekku dengan kon tolnya sampe akhirnya aku nyampe lagi,
“mas aku nyampe lagi mas, mas lama banget sih ngecretnya, aku udah lemes banget mas “, erangku.
Dia terus saja mengenjot me mekku sampe akhirnya “Din, aku ngecret”,
dia menancapkan kon tolnya dalem2 di me mekku dan terasa semburan
pejunya di me mekku.
“Nikmat banget ngen totin kamu Din, me mek kamu bisa kedutan, kerasa kaya diemut sama mulut kamu”, katanya.
Kemudian dia mencabut kon tolnya dari me mekku dan berbaring disebelahku.
“Din, nanti sore kita lanjut lagi yuk, kita ngen tot semalem lagi”, katanya.
Aku hanya tersenyum dan akhirnya tertidur lagi dipelukannya.
Hari itu aku melakukan altivitas di rumah dengan lesu, maklum aja
semaleman dien tot sampe nyampe berkali2, pastinya ngantuk dan lemes.
Malemnya, dia menjeputku lagi dirumah, kembali dia kasi instruksi kalo
aq mesti menghadiri penutupan miting yang kemaren. Pinter anget dia buat
skenarionya, yang lainnya yang ada dirumah mah ho oh ja kalo bis bos
yang nyampein. Kami nyari makan dulu seperti kemaren, selesai makan dia
ngajakin aku santai di pub, dengerin musik sambil becanda2. Deket tengah
malem baru balik ke hotel lagi. Dia masuk kamar mandi, ketika keluar
hanya mengenakan celana pendek dan t shirt.
Dia mengambilkanku can soft drink dingin, dibukakan untukku. Aku meminumnya.
“Mau mandi yang?’ tanyanya sambil memelukku.
Aku diciumnya, tangannya segera meremas2 toketku kembali. Napsunya
bukan main. Segera aku ditelanjanginya,toketku diciuminya dan pentilku
diemut2nya, segera saja pentilku mengeras.
Tangannya segera saja mengiliki2 it ilku, dia sepertinya mau memanfaatkan waktu seefisien mungkin.
“mas , kok napsu banget sih sama aku”, tanyaku.
“Abis ngen totin sama kamu nikmat banget sih”, jawabnya.
“Aku juga dapet nikmatnya dipatil lagi sama kon tol mas “, jawabku.
Kemudian dia melepas celana dan t shirtnya, dia rupanya tidak
mengenakan CD. kon tolnya sudah ngaceng dengan keras. Dia duduk diubin
di depanku, kakiku dikangkangkannya. Badanku diseretnya sehingga aku
setengah rebah di dipinggir sofa. Lidahnya mulai menggesek me mekku dari
atas ke bawah. it ilku menjadi sasaran berikutnya, dijilat, dihisap,
kadang digigit pelan, dijilati lagi,
“mas , enak banget mas , terus mas “, erangku. Dia terus menjilati it ilku sampe aku nyampe.
“Akh mas , belum dien tot aku sudah nyampe kaya kemaren2, mas lihai
banget deh makan me mekku”, kataku. Dia berdiri, aku ditariknya supaya
duduk.
kon tolnya tepat ada dimukaku, segera saja aku genggam dan kuemut
kepalanya. mulutku mulai mengeluar masukkan kon tolnya sambil batangnya
kukocok2 dengan cepat dan keras. Dia mengejotkan kon tolnya pelan
dimulutku seperti sedang ngen totin mulutku.
Beberapa saat kemudian, dia berbaring disofa, aku segera menaiki
badannya dan menancapkan kon tolnya di me mekku, kusentakkan badanku
kebawah dengan keras sehingga sebentar saja kon tolnya udah nancep semua
di me mekku. Aku menaik turunkan pantatku dengan cepat sehingga kon
tolnya terkocok oleh me mekku dengan cepat juga,
“Akh nikmat banget Din” erangnya.
Aku merasa sudah mau nyampe, tapi dia menahan badanku sehingga aku
berhenti mengenjot. kon tolnya dikeluarkan dari me mekku, aku disuruhnya
telungkup menungging di sofa dan kembali kon tolnya ditancapkan ke me
mekku dari belakang. “Bles, kon tolnya langsung saja nancep semuanya ke
me mekku,
“Akh, nikmatnya,”, kali ini aku yang menggerang.
Dia langsung mengenjot me mekku dengan cepat dan keras. Terasa sekali
kon tolnya menggesek me mekku, kalo dienjotkan dengan keras terasa kon
tolnya nancep dalem sekali di me mekku. Makin cepat dienjot makin nikmat
rasanya. Tiba2,
“akh mas , aku nyampe, mas ” , kenikmatanku meledak juga akhirnya.
DIa terus saja mengenjotkan kon tolnya keluar masuk dengan cepat sampe akhirnya kembali dia ngecret
“Din, aku ngecret, nikmat banget rasanya Din”, terasa kembali pejunya membanjiri me mekku.
“mas , aku lemes banget mas. mas gak ada matinya ya”, kataku sambil tersenyum.
“Ya udah kita mandi dan terus tidur, besok pagi kita main lagi ya”, jawabnya sambil masuk ke kamar mandi.
Aku berbaring saja di sofa sambil istirahat. Selesai mandi, dia
keluar masih bertelanjang bulat. Giliranku mandi. Nikmat berdiri dibawah
shower air hangat, apalagi setelah kerja keras barusan. Selesai mandi,
dia sudah berbaring diranjang, aku berbaring disebelahnya dan tak lama
kemudian aku tertidur.
Ketika terbangun, hari sudah terang, aku males ngelakuin apa2,
mendingan juga sama dia mereguk kenikmatan. Aku bangun ke kamar mandi,
pipis dan sikat gigi. Aku pake saja sikat gigi yang ada, muka kubasuh
dengan air dingin. Seger sekali rasanya. Ketika keluar dari kamar mandi
dia sudah bengun. Dia sedang menyeduh kopi dan menghangatkan roti di
microwave. Karena ini suite room makanya fasilitasnya lengkap. Aku duduk
di meja makan. Dia menghidangkan roti. Aku menikmati saja yang
disediakannya.
“Mas, gak pulang kita, ntar timbul pertanyaan?’.
“Tadi aku dah sms pak supir, ngasi tau kalo kita masi nyelesain kerjaan dulu baru pulang”.
“Bisa aja mas cari alesan”. Sehabis mengisi perut, dia langsung menarik tanganku kembali ke ranjang.
Aku dipeluknya, tangannya segera saja meremas2 toketku sambil mencium
bibirku dengan gemasnya. Pentilku diplintir2nya pelan, napsuku segera
saja berkobar, pentilku segera mengeras. Aku tidak tinggal diam, kon
tolnya yang sudah ngaceng keras sekali kukocok2.
“Aku isep ya mas”, kataku sambil mengubah posisi mendekati kon tolnya.
Kepala kon tolnya kujilati kemudian pelan2 kumasukkan ke mulutku. kon tolnya kukulum2, kukeluar masukkan di mulutku.
“Enak Din”, erangnya.
Kemudian dia menarik aku kembali kepelukannya. Bibirku kembali
dilumatnya, aku membalas lumatannya, sementara tangannya terus saja
meremas2 toketku. Tangannya kemudian mengarah kebawah, it ilku menjadi
sasaran berikutnya.
“Akh mas , enak”, erangku.
Dia menciumi leherku, terus kebawah mengemut pentilku bergantian, aku
terus mengerang keenakan. Ciumannya terus mengarah kebawah, berhenti di
puserku sehingga aku menggelinjang kegelian,
“Geli mas , nakal ih pagi2″, kataku manja.
Akhirnya sampailah ciumannya pada sasaran sesungguhnya, me mek dan it
ilku. Jilatannya segera menyerbu it ilku. Aku sudah mengangkang
selebar2nya supaya dia mudah menjilati it ilku. Dia meletakkan bantal
dibawah pinggulku.
“buat apa mas , kan kon tol mas panjang. Gak usah diganjel masuknya juga dalem banget”, tanyaku.
Dia tidak menjawab, terus saja menjilati it ilku yang makin terexpose
karena ganjelan bantal itu. Aku jadi tau kenapa dia mengganjal pantatku
dengan bantal, supaya dia mudah menjilati it ilku. Jilatannya berubah
menjadi emutan, it ilku diemut2nya pelan. Aku menjadi makin blingsatan.
“Akh mas , aku udah pengen dien tot, mas . Masukin dong kon tolnya mas
“, erangku.
Dia menghentikan emutannya, aku dinaikinya dan mengarahkan kon tolnya
ke me mekku. Dia menggosok2kan kepala kon tolnya di me mekku yang sudah
basah banget,
“Ayo dong mas , tancepin aja semuanya”, erangku gak sabar.
Aku makin menggelinjang karena gosokan kon tolnya itu. Pelan2
dimasukkannya kon tolnya ke me mekku. Dia menekan kon tolnya masuk
sedikit2 demi sedikit. Karena ganjalan bantal, kon tolnya jadi lebih
mudah nancep.
“Akh, ssh, enak banget mas , tancepin aja semuanya sekaligus sampe mentok”, kataku.
Dia mulai mengenjotkan kon tolnya keluar masuk pelan sehingga sedikit
demi sedikit kon tolnya nacep makin dalem aja. Nikmat banget disodok
kon tol besar dan keras kaya begitu. Enjotannya makin cepat dan dengan
sekali hentak dkon tolnya ditancepkan semuanya ke me mekku,
“akh enak banget mas “, erangku.
Dia terus saja mengenjotkan kon tolnya dengan keras dan cepat,
“enak mas , terus mas , yang cepet, aku udah mau nyampe mas “, erangku terengah2.
Tau aku udah mau nyampe, dia mempercepat enjotan kon tolnya, setiap
enjotannya lengsung menancapkan kon tolnya dalam2 di me mekku. Pantatku
menggeliat2 tidak teratur saking nikmatnya. Akhirnya sampe juga puncak
kenikmatan buatku. Kakiku segera membelit kakinya, aku memeluk
punbggungnya,
“mas , aku nyampe, akh, ssh, enak banget mas “, jeritku keenakan.
Dia terus saja mengenjotkan kon tolnya keluar masuk setelah aku
meletakkan kakiku diatas ranjang lagi, rasa nikmat membuatku terkapar,
napasku tersengal2, dia tidak peduli dengan kondisiku, tetap saja kon
tolnya dienjotkan dengan cepat dan keras. Sebentar kemudian napsuku
sudah bangkit lagi, aku mulai menggeliat2kan pantatku.
“Din ganti posisi yuk”, katanya sambil mencabut kon tolnya dari me mekku.
Aku disuruhnya menungging dipinggir ranjang. Dia berdiri dibelakangku
dan menancapkan kon tolnya dime mekku. Sekali sodok, kon tolnya sudah
nancep sampe pangkalnya. Sambil berdiri dia mengenjot me mekku. kon
tolnya bergerak keluar masuk me mekku dengan cepat dan keras. Enjotannya
lebih terasa keras karena dia berdiri sehingga tenaga enjotannya
menjadi lebih besar, buatku sih tambah nikmat jadinya.
“Akh mas , enak banget, enjotan kon tol mas terasa banget keluar masuk me mek Dina, terus mas , ssh”, erangku.
Dia mempercepat enjotan kon tolnya,
“Din, aku udah mau ngecret Din”, katanya.
“iya mas , aku udah mau nyampe lagi, barengan ya mas “, jawabku.
Tiba2 dia menjenjotkan kon tolnya dalem2 dengan keras,
“Din, aku ngecret, akh, ssh”, erangnya. Akupun mengejang karena aku nyampe lagi,
“mas aku juga nyampe mas , akh nikmat banget mas ,” jeritku.
Dia menelungkup diatas punggungku sehingga aku rebah keranjang. kon tolnya tercabut dari me mekku.
Dia berguling dan berbaring disebelahku yang masih nelungkup.
“mas , nikmat banget deh enjotannya kalo mas ngenjotnya sambil berdiri”, kataku.
Dia hanya tersenyum. Aku bangun ke kamar mandi, pipis. Kemudian me mekku kusiram dengan shower, dingin rasanya.
Kembali ke ruangan aku mengambil air dingin di lemari es, kuminum
habis segelas, aku mengisinya lagi dan kuberikan kepadanya yang masih
terkapar kelelahan.
Aku masih pengen sekali lagi ngerasain kon tolnya keluar masuk,
segera saja aku mulai menjilati kon tolnya. Terus kuemut2 sambil
kukocok2, gak lama kon tolnya sudah keras lagi.
“Hebat mas , udah ngaceng lagi”, kataku sambil terus mengocok kon tolnya.
“Kamu juga hebat Din, napsu kamu cepet sekali berkobar, kayanya kamu gak puas2 ya makan kon tolku”, katanya.
“Mana bisa puas mas , kan gak tiap hari me mek ku keiisi kon tol mas ,
mumpung ada kesempatan ya dituntasin aja”, kataku sambil kembali
mengemut kon tolnya.
“Kan sekarang bisa tiap malem kalo kamu mau”. Aku mengubah posisi nelungkup sambil mengangkang diatas mukanya, posisi 69.
Dia tau apa yang harus dikerjakannya, sambil menikmati kon tolnya
yang sedang kuemut2 dia segera menjilati me mekku sampe ke pantatku, it
ilku dikilik2 dengan tangannya. Aku segera bangun dan menduduki kon
tolnya, kon tolnya segera saja ambles dime mekku sekali lagi. Aku menaik
turunkan pantatku sambil engejangkan me mekku meremas kon tolnya.
Enjotanku makin cepat, dia merintih2 keenakan,
“Enak Din, empotan me mek kamu kerasa banget, lihai sekarang kamu ya Din”, katanya.
Setiap enjotan kebawah membuat kon tolnya nancep semua di me mekku.
Setiap aku menaikkan pantatku, tampak bibir me mekku turut terarik
keluar karena cengkeraman me mekku di kon tolnya. Enjotanku makin lama
makin cepat,
‘akh mas enak mas , aku udah mau nyampe lagi”, erangku, dia meremas2
toketku yang berguncang2 mengikuti irama enjotanku, pentilku
diplintir2nya menambah kenikmatanku. Sampa akhirnya, “Akh mas , aku
nyampee mas , ssh”, akupun mabruk didadanya.
Dia segera menggulingkan aku sehingga sekarang dia yang diatas, kon
tolnya yang masih keras tetap nancep di me mekku. DIa sekarang yang
ambil peran, mengenjot me mekku dengan cepat dan keras. Cepat sekali
enjotannya, aku hanya bisa ber aakh ssh saja saking enaknya, sampe
akhirnya diapun gak tahan lagi, “Din, aku ngecret Din”, erangnya sambil
menancapkan kon tolnya sedalam2nya di me mekku. Terasa semburan pejunya
di me meku sehingga akupun nyampe lagi untuk kesekian kalinya. Benar2
event yang sangat nikmat. Aku dien tot berkali2 dan berkali2 juga
nyampe. Wah benar2 terpuaskan napsuku yang tertahan2 selama ini. Setelah
istirahat dan mandi, dia mengantarkanku pulang kerumah. – Cersex Cerita Sex, Cerita Dewasa, Cerita Ngentot, Cerita Mesum, Cerisex Terbaru 2015
Langganan:
Posting Komentar
(
Atom
)
0 komentar:
Posting Komentar