Cersex Cerita Sex, Cerita Dewasa, Cerita Ngentot, Cerita Mesum, Cerisex Terbaru 2015 – Cerita Sex: Mbak Arti
– Sore itu aku baru saja mengantar istriku Ine piknik ke Bali
bareng-bareng murid SMU dan teman-temannya sesama guru. Aku antar sampai
bis berangkat menuju Bali diiringi lambaian tangan istriku tercinta.
Sebelum berangkat istriku berpesan agar segera mengembalikan uang yang
dipinjamnya kepada istri kakaknya, yang berarti adalah kakak iparku juga
yang bernama Arti.
Walaupun cuaca agak mendung, tetapi kuantarkan juga uang itu kepada
kakak ipar istriku. Sampai di sana ternyata sepi, nggak ada orang dan
pintu rumah tertutup rapat. Ku ketuk pintu rumah
“Tok..tok..tok….kula nuwun”, sapaku. Nggak ada jawaban.
Read more
Berulang-ulang kuketuk pintu juga nggak ada jawaban. Akhirnya
iseng-iseng pegangan pintu ku dorong, ternyata pintu nggak terkunci.
Teledor benar kakak iparku ini, begitu pikirku. Aku masuk ke kamar tamu,
sepi. Sayup-sayup ku dengar suara gemercik air di kamar mandi belakang.
Segera aku ke sana dan menyapa kakak iparku.
“Mbak.. mbak” sapaku agak keras, karena suara air mandipun keras juga.
“Siapa itu?” jawab dari dalam. “Aku…Unang” jawabku.
“Ada apa..” tanyanya lagi.
“Ini mbak aku disuruh Ine mengembalikan uang yang dipinjam kemarin” jawabku.
“Ya..tunggu sebentar” jawab mbak Arti dari dalam kamar mandi.
Akhirnya aku duduk-duduk di depan TV sambil menonton acaranya. Lima
menit berlalu, sepuluh menit, limabelas menit sudah aku menunggu,
ternyata mbak Arti belum juga kelar acara mandinya. Iseng-iseng aku
bangkit menuju kamar mandi dan mencoba melihat dari luar apa yang sedang
dilakukan kakak iparku ini. Waah….ada lubang kunci, itu cukup buatku
untuk mengintipnya. Deg..plasss…jantungku seakan rontok melihat
pemandangan yang belum pernah aku saksikan. Kulihat kakak iparku ini
sedang menggosok-gosok badannya dengan sabun mandi sambil duduk di
pinggir kamar mandi dengan kaki mengangkang.
Terlihat jelas di mataku, karena posisi duduknya menghadap ke pintu
kamar mandi. Wajahnya terlihat memerah, matanya tertutup rapat dan
bibirnya menganga sambil sesekali mengeluarkan erangan halus,
“ahhhhgg…ahhhhhg…ssshh”. Kulihat payudaranya ranum banget, walaupun agak kecil, putingnya merah dan menegang, indah sekali.
Pandangan ku alihkan ke bawah. Srettt..darahku mendidih seketika,
karena vagina-nya terlihat sangat bagus, seperti mawar merah yang sedang
merekah, yang sekelilingnya dihiasi dengan bulu-bulu halus membentuk
lingkaran di sekitar mulut luar dan sekitar perut. Mbak Arti terus
menggosok payudara dan vaginanya sambil pantatnya bergoyang-goyang.
Baca >>BOLA TANGKAS
Diantara keluarga kami, mbak Arti ini mempunyai pantat yang paling
bagus, padat dan besar, tetapi serasi dengan bentuk tubuhnya. Ohhh.
Rupanya kakak iparku ini sedang masturbasi. Aku tak begitu saja
menyia-nyiakan kesempatan ini. Kuteruskan kegiatanku mengintip. Pantat
mbak Arti semakin bergetar keras ketika jarinya menyentuh klitoris yang
menyembul di antara vagina-nya. Digosoknya vagina-nya dengan gerakan
memutar seirama dengan goyangan pantatnya. Mungkin sudah klimaks, karena
kulihat mbak Arti mengejang dan meluruskan kakinya sambil menciumi
ketiaknya sendiri.
Khawatir ketahuan aku segera berjingkat-jingkat menuju depan TV dan
kembali duduk, Pura-pura membaca Koran yang ada di depanku.
Jegleggg…pintu kamar mandi dibuka. Kakak iparku keluar dari kamar mandi
dengan mengenakan daster tipis tembus pandang, hingga membuat
tenggorokanku kering menahan gejolak seksku yang kian meninggi. Tetapi
aku pura-pura acuh dan bertanya
“Mas Dwi pergi ke mana to mbak” tanyaku basa-basi.
“Masmu baru penataran di Ungaran selama 3 hari, tadi siang baru berangkat, mbak mengantar sampai terminal” sahutnya.
Wahhh..duda ketemu janda nich, pikirku.
“Ini mbak titipan dari Ine, mohon maaf karena baru sekarang baru bisa
ngembali’in” kusampaikan permintaan maaf istriku sambil memberikan
amplop berisi uang
“Ah..nggak apa-apa” sahutnya.
Baru berbincang-bincang sebentar, tiba-tiba hujan turun dengan derasnya seakan-akan mengguyur bumi ini.
“Waduh..hujan” kataku memecah suara hujan yang jatuh di atas genting.
“Ya berteduh dulu to di sini, nggak usah sungkan, wong di rumah saudara aja. Sebentar mbak buat’in minuman hangat” sahutnya.
Mbak Arti berjalan ke dapur. Cleguk…aku menelan ludah karena kulihat
pantat mbak Arti bergoyang ke kanan dan ke kiri, seakan-akan menantang
setiap lelaki untuk menjamahnya. Kulihat terus setiap gerakan tubuhnya
dengan seksama. Darahku seakan berhenti ketika kakak iparku ini mengaduk
minuman di gelas. Seluruh tubuhnya bergoyang, payudaranya, perutnya,
pantatnya pokoknya syuur banget. Tiba-tiba dia lari dari dapur menuju ke
arahku dan memelukku erat-erat sambil berteriak,
“Dik Unang, kakak jijik lihat kecoa di dekat gelas itu” katanya sambil menunjuk ke arah dapur.
“Tenang mbak, tenang, ayo kita bunuh kecoa itu” sahutku sambil tetap memeluk kakak iparku itu dan berjalan menuju dapur.
Dengan sebuah gagang sapu, kubunuh kecoa itu dan kubuang ditempat
sampah, tetapi anehnya kegiatan itu kulakukan dengan tetap berpelukan
dengan kakak iparku itu. Jantungku mulai berdetak sembarangan. Nafsu
mulai naik ke ubun-ubun. Tiba-tiba kedua mata kami beradu pandang, lama
sekali sambil nafas kami terengah-engah. Sementara hujan berubah menjadi
rintik-rintik, mendukung suasana menjadi dingin dan sepi. Nggak sadar,
entah siapa yang memulai, bibir kami saling berpagut, hangat. Kulumat
bibir kakak iparku itu dengan penuh nafsu.
Sekali-sekali kugigit bibirnya dan kumainkan lidahku di atas
langit-langit mulutnya. Nafsu seks sudah mengasai kami berdua. Aku tahu
itu tidak boleh, tetapi kami nggak kuasa untuk menghentikannya. Kami
semakin tenggelam dalam birahi. Kini leher jenjang kakak iparku menjadi
sasaranku berikutnya. Kuciumi dan kujilat sepuasnya. Hampir saja aku
mencipok lehernya itu, kalau tidak ditepis oleh kakak iparku itu dan
memprotes,
“Jangan dik..nanti membekas”, larangnya.
Kemudian kujilat kuping belakang mbak Arti sambil kubisikkan sesuatu.
Ia mengangguk. Sambil masih tetap berdiri di pinggir wastafel dapur
kulepas pakaiannya satu per satu. Hingga kini tak selembar benangpun
melilit tubuhnya. Kupandangi tubuh indah itu sampai lama, hingga lidahku
tahu-tahu sudah memainkan puting payudara yang sudah memerah tegang
itu. Pelan-pelan kaki kanannya ku angkat dan kuletakkan di pinggir
wastafel itu. Jemarikupun refleks memainkan bulu-bulu halus di sekitar
vaginanya. Kudengar kakak iparku melenguh-lenguh tanda terangsang.
“Ah…. ouhgh….. sshh…. nikmat.. terus….”. Dengan penuh nafsu serangan
kuteruskan dengan lidah di bibir vaginanya yang sudah basah oleh cairan
hangat itu.
Kujilat–jilat mesra sambil sesekali menggigit bagian dalam bibir
vagina itu. Rupanya seranganku membuahkan hasil. Mbak Arti bergetar
keras dan mengajakku pindah ke sofa. Kami duduk berpangkuan sambil terus
melakukan kontak seksual. Kini giliran Mbak Arti yang gantian
menyerangku. Dicopotinya semua pakaianku. Ia sempat terbelalak begitu
melihat penisku. Entah apa yang dirasakannya. Yang jelas ia langsung
melahap penisku sampai habis. Diisap-isap, dikocok-kocok dan dijilati
sampai puas. Gantian aku yang menggelinjang hebat, karena terus terang
aku sudah terangsang ketika aku mengintip kakak iparku ini mandi.
“Mmmmhhhh….srup….srup..” penisku dihisap-hisap sampai badanku merinding semua.
Ia memandang mataku dan memberi tanda agar pindah ke kamar tidurnya.
Kami berbaring dengan ambil posisi 69. Kini didepan wajahku terpampang
vagina yang menganga dan memerah. Tanpa menyia-nyiakan kesempatan,
langsung ku serang vagina itu hingga Mbak Arti menggelinjang penuh
kenikmatan. Tetapi sebaliknya Mbak Artipun semakin gencar menyerang
peny-ku dengan tak kalah hebatnya. Tiba-tiba ia bangun dan mendorongku
hingga jatuh telentang. Hujan belum juga berhenti. Dalam hati kunyayikan
lagu anak-anak yang kugubah syairnya, TIK..TIK…TIK BUNYI HUJAN DI ATAS
RANJANG.
Ia mulai ambil posisi membelakangiku dan membimbing peny-ku masuk ke
dalam lobang vagina yang sudah becek itu disertai gerakan naik turun.
Pelan-pelan….agak cepat….sampai seperti kesetanan ia terus menggoyang
pantatnya naik turun. Kuimbangi gerakannya dengan mendorong peny-ku maju
mundur. Mulutnya menceracau tak karuan. Dengan masih melakukan gerakan
tadi kuremas-remas payudara yang kini semakin mengeras itu. Hingga
akhirnya ia menjerit kecil
“Ohhhh..aku sudah nggak tahan lagi dik….Ahsh..”. Segera kuambil posisi konvensional.
Kutelentangkan ia, pahanya ku buka lebar-lebar dan tumitnya
kuletakkan di bahuku. Kuterobos lubang menganga itu dengan rudalku, dan
kuserang habis-habisan. Permainan ini kami lakukan hampir 1 jam, sampai
kakak iparku berdesah hebat sambil berkata
“Ahg….ough..sh… Aku mau keluar dik. Ohhhg”. Kutambah kecepatan permainanku karena akupun sudah mendekati detik-detik orgasme.
Kurasakan darah mengalir dari seluruh tubuh ke peny-ku Kugoyang,
kugoyang dan kugoyang terus, sampai masing-masing kami mencapai puncak
kenikmatan dengan kusemburkan mani ku ke dalam vagina kakak iparku itu
sambil memeluknya erat-erat. Sepuluh menit kami berpagut mesra. Hingga
akhirnya kami kenakan pakaian kami kembali.
“Mbakkk..” panggilku. “Mmhhhhh..” jawabnya manja.
“Aku sebetulnya sudah mengintip waktu mbak tadi mandi” godaku.
“Ahhhh..kamu nakal..” sungutnya sambil mencubit lenganku keras-keras.
Senda gurau berakhir sampai aku berpamitan pulang dan kebetulan hujan
sudah agak reda. Sebelum pulang kucium mesra pipi dan bibirnya sambil
kubisikkan di telinganya
“Mbak adalah kakak iparku tersayang”.
Langganan:
Posting Komentar
(
Atom
)
0 komentar:
Posting Komentar